Yang Mengikuti Pendapat Mujtahid Disebut

Wed, 4 January 2022 08:05

Allah swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami enggak mengutus sebelum kamu, kecuali manusia-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada individu yang mempunyai pengetahuan jika kamu tak mengetahui” (QS. an-Nahl: 43/ al-Anbiya’: 7)

Ada empat pokok pembahasan puas ayat diatas:

[Pertama]

Ayat ini persis secara redaksi ada puas dua tempat, yaitu sreg QS. an-Nahl: 34 dan QS. al-Anbiya:7. Kedua ayat ini berbicara lega tema nan sama, yakni selingkung penolakan basyar-orang musyrik terhadap kerusulan nabi Muhammad saw, dimana kerumahtanggaan anggapan mereka nan namanya utusan Tuhan itu harusnya tidak dari golongan manusia, sekurang-kurangnya mereka harus berbunga kalangan malaikat, hingga risikonya Allah swt menurunkan ayatnya:

 أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ

“Patutkah menjadi keheranan bagi cucu adam bahwa Kami mewahyukan kepada seorang lanang di antara mereka” (QS. Yunus: 2)

Dan Tuhan swt juga menempatkan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami lain mengutus sebelum anda, kecuali cucu adam-sosok lanang yang Kami beri nubuat kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika engkau enggak memaklumi” (QS. an-Nahl: 43)

Demikian at-Thabari  mengutip  riwayat Ibnu Abbas ra tercalit latar pantat turunnya ayat tersebut [1]. Demikian pula yang tulis oleh al-Wahidi (w. 468) terkait sebab nuzul ayat kerumahtanggaan kitabnya Asbab an-Nuzul. [2]

Boleh jadi dalam anggapan mereka seandainya nabi itu yaitu dari golongan anak adam, maka mereka pula akan makan sebagaimana yang mereka bersantap, dengan demikian signifikan utusan Tuhan juga akan sering pergi ke kamar kecil untuk membuang hajat besar maupun kecil, perilaku ini sepertinya bentrok dengan level mereka bagaikan bagaikan utusan Yang mahakuasa.

Sehingga melalui ayat ini, tegas Ibnu Katsir, ada dua tujuan terdahulu yang hendak dicapai dalam gambar meyakinkan keraguan masyarakat Arab terkait kerasulan nabi Muhammad saw[3]: (1) Melalui ayat ini Allah swt hendak mengabarkan bahwa semua nabi dan nabi yang diutus sebelum diutusnya nabi Muhammad saw ini juga semenjak lingkaran makhluk[4], dan (2) jika memang masih ada keraguan terhadap kerasulan mulai sejak golongan individu maka tidak pelecok takdirnya perkara ini ditanyakan kembali kepada orang-anak adam yang mempunyai pengetahuan tentang kitab-kitab sebelumnya, apakah nabi dan utusan tuhan mereka terdahulu juga dari golongan manusia atau dari golongan malaikat?

Takdirnya itu yang mereka lakukan, maka secara ilmiyah dengan fakta-fakta apa adanya, mereka akan sampai kepada suatu kesimpulan bahwa senyatanya nabi Isa as, nabi Musa as, utusan tuhan Daud as, dan rasul-nabi nan lainnya nan relasi terserah dalam ki kenangan makhluk juga berpokok golongan basyar.

Selanjutnya menunut ar-Razi selain bahwa Allah swt tidak gabungan sesekali mengutus seorang utusan tuhan dan rasul dari golongan malaikat, melangkaui ayat ini pula secara jelas Allah swt lagi menggarisbawahi bahwa tidak pernah ada nabi dan rasul berusul jenis perempuan[5]. Semua pengakuan nabi dan rasul dari dari golongan pemudi terbantahkan dengan ayat ini.

[Kedua]

Para ulama menyodorkan catur makna boleh jadi nan dimaksud dengan ahl ad-dzikr pada ayat diatas. At-Thabari mengungkapkan bahwa yang mereka itu adalah[6]: (1) Ahli kitab, baik berasal limbung Ibrani maupun Nasrani yang sreg keduanya ada pengetahuan tentang kitab Taurat atau Injil nan dahulu diturunkan untuk mereka, ini yaitu pendapat Ibni Abbas, Mujahid, dan lainnya. (2) Ibni Zaid berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahl ad-dzikr pada ayat itu adalah ahli Quran, lalu kemudian beliau membacakan ayat:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menaruh Al-Alquran, dan Sesungguhnya Kami benar-bermartabat memeliharanya” (QS. al-Hijr: 9)

Ar-Razi menambahkan dua nilai berikutnya, adalah (3) ahl ad-dzikr yang dimaksud ahli sejarah, yang padanya banyak maklumat sekeliling memori-memori tahun lampau, dan yang ke (4) Mereka ialah alim ulama secara mahajana[7]. Sesungguhnya keempat makna ini boleh diambil semuanya demi menjaga keluasan makna yang ingin disampaikan makanya al-Alquran, dengan alasan bahwa makna satu dengan yang lainnya tidak ada nan ubah bertentangan.

[Ketiga]

QS. an-Nahl: 43/ al-Anbiya’: 7 adalah ayat nan paling kecil banyak dibicarakan maka itu para fuqaha terkait tingkatan ummat Islam n domestik memafhumi al-Alquran atau as-Sunnah, pembagian itu yakni: (1) Mujtahid, dan (2) Muqallid.

Kata mujtahid privat bahasa arab merupakan ism fa’il (subjek/pelaku) berpangkal pembukaan kerja ijtahada, sedangkan pekerjaannya disebut dengan ijtihad. Serdak Hamid al-Ghazali (w. 505) n domestik kitabnya al-Mustashfa menguraikan bahwa:

عِبَارَةٌ عَنْ بَذْلِ الْمَجْهُودِ وَاسْتِفْرَاغِ الْوُسْعِ فِي فِعْلٍ مِنْ الْأَفْعَالِ، وَلَا يُسْتَعْمَلُ إلَّا فِيمَا فِيهِ كُلْفَةٌ وَجَهْدٌ، فَيُقَالُ: اجْتَهَدَ فِي حَمْلِ حَجَرِ الرَّحَا، وَلَا يُقَالُ: اجْتَهَدَ فِي حَمْلِ خَرْدَلَةٍ، لَكِنْ صَارَ اللَّفْظُ فِي عُرْفِ الْعُلَمَاءِ مَخْصُوصًا بِبَذْلِ الْمُجْتَهِدِ وُسْعَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ بِأَحْكَامِ الشَّرِيعَةِ. وَالِاجْتِهَادُ التَّامُّ أَنْ يَبْذُلَ الْوُسْعَ فِي الطَّلَبِ بِحَيْثُ يُحِسُّ مِنْ نَفْسِهِ بِالْعَجْزِ عَنْ مَزِيدِ طَلَبٍ

“Ijtihad itu ialah mengeluarkan barang apa kemampuan secara maksimal intern melakukan satu pencahanan, sehingga prolog ijtihad ini enggak bisa diperuntukkan lakukan sebuah pencahanan yang ringan. Dan istilah ijtihad ini puas akhirnya hanya dimaknai buat seorang mujtahid yang mencurahkan segala kemampuannya bagi mencari dan mahamai ilmu syariat, sampai pada akibatnya dia merasa bahwa sudah tidak cak semau lagi yang tersisa berpangkal apa yang telah engkau lakukan”[8]

Dari sini bisa disimpulkan bahwa mujtahid itu adalah turunan yang mukallaf nan bisa memahami perkara syariat secara sedarun lewat sumbernya, mereka yakni adalah jamhur yang yang isyaratnya sudah jauh hari Allah swt firmankan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada bani adam nan memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. an-Nahl: 43/ al-Anbiya’: 7)

Lebih lanjut, ada bilang syarat yang diajukan maka itu as-Syaukani untuk menjadi seorang mujtahid:

1. Tanggulang teks al-Quran dan as-Sunnah, terutama teks-wacana/hadits yang berkaitan dengan hukum syariat.

Terkait berapa kuantitas ayat ayat-ayat yang bertutur hukum, maka para ulama semisal al-Ghazali dan lainnya menilai bahwa jumlah ayat syariat itu terbatas dalam jumlah ayat tertentu. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Ghazi dalam Al-Mustashfa[9]. Akan tetapi mereka yang berpendapat seperti ini lega hasilnya juga berselesih faham dalam total pastinya.

Ibnu Al-Arabi misalnya, beliau berpedapat bahwa jumlah ayat hukum internal Al-Quran lebih dari 800 ayat, namun al-Ghazali menilai bahwa jumlahnya kisaran 500an ayat saja, dilan pihak As-Shan’ani berpendapat bahwa jumlahnya berkisar 200an ayat, dan pendapat Anak lelaki Al-Qayyim cuma memercayai bahwa jumlahnya lebih invalid 150an ayat saja.

Hanya mayoritas jamhur nan membiji bahwa ayat hukum itu bukan terbatas jumlahnya, semua ayat internal Al-Quran memungkin kerjakan kita cak bagi memendekkan hukum darinya, biarpun dalam aslinya ayat tersebut secara redaksional tidak sedang berbicara masalah hukum, hal ini sesuai dengan penejeasan Az-Zarkasyi internal Al-Burhan fi Ulum Al-Quran[10].

Lebih lanjut, az-Zarkasyi menilai bahwa pendapat kedua lebih terdepan karena dua alasan[11]:
Pertama: bahwa memang banyak hukum-hukum didalam Al-Quran itu didapat memalui penjelasan ayat Al-Quran nan memang secara sidang pengarang menyebutkannya dengan jelas.

Misalnya sekadar kita akan dengan mudah mendapatkan penjelasn hukum tentang puasa melalui ayat berikut:

يا أيها الذين آمنوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْصِّيَامُ

“Wahai orang-orang nan beriman diwajibkan atas anda berpuasa” (QS. Al-Baqarah: 183)

Dan bahwa keberadaan hukum puasa itu akan sangat bergantung dengan hitungan bulan tidak matahari, dan takrif syariat serupa ini dengan bukan tertalu langka lazim kita temukan lewat penjelasan ayat berikut:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الْشَهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara ia hadir (di wilayah tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia bertarak lega wulan itu”(QS. Al-Baqarah: 185)

Model ayat nan banyak menyebutkan hukum secara redaksi ini biasanya diapat pada ayat-ayat surat Al-Baqarah, An-Nisa dan Al-Maidah.

Kedua:
Bahwa penjelasan hukum dalam Al-Quran juga bisa dapat dengan metode istinbath (menyimpulkan) karena memang secara redaksional ayat tersebut tidak mengistilahkan hukum secara gamblang.

Penali ini bisa didapat baik lewat suatu ayat, atau dengan menggabungkan banyak ayat nan tersebar pada tindasan yang bebeda, atau pula menggabungkan ayat dengan hadits Rasulullah SAW.

Misalnya pada ayat berikut:

فالآن بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْر

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang sudah lalu ditetapkan Yang mahakuasa untukmu, dan Makan minumlah sebatas terang bagimu benang zakiah dari untai hitam, Yakni dini hari”(QS. Al-Baqarah: 187)

Dari suatu ayat ini para jamhur berpendapat bahwa enggak kok untuk berpuasa lamun ketika subuh cak bertengger masih dalam kejadian junub (hadats samudra), lamun lega ayat diatas secara redaksional tidak disebutkan dengan jelas hukumnya, namun alat penglihatan bathin para ulama bisa menangkap sinyal itu.

Misal berikutnya adalah penjelasan Al-Quran akan halnya masa minimal kehamilan seorang perempuan. Al-Quran tidak menjuluki secara tegas tentang usia minimal hamil, namun paa cerdik pandai menyimpulkan bahwa arwah paling hamil bagi perempuan itu ialah heksa- wulan.

Batasan ini disandarkan kepada sebuah atsar (congor sahabat) bahwa dulunya ada sendiri laki-laki yang menikah, lalu kerumahtanggaan kurun musim heksa- bulan pecah pernikahannya mereka sudah memperoleh momongan.

Melihat pengetahuan seperti ini maka Utsman bin Affan ra. seakan kaget, dan terdetik didalam hatinya cak bagi memidana mereka dengan sangkaan zina, lalu datanglah Ibnu Abbas ra, kemudian beliau memberikan penjelasan.

Mula-mula, Ibnu Abbas mendiktekan potongan sebuah sebuah ayat berikut:

وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ شَهْرًا

“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan runyam payah (sekali lagi). mengandungnya setakat menyapihnya yakni tiga puluh bulan”(QS. Al-Ahqaf: 15)

Lewat kemudian Ibnu Abbas menyinambungkan penjelasannya dengan membaca ayat lainnya:

وَالْوَالِدَاتُ يَرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

“Para ibu hendaklah menyusukan momongan-anaknya selama dua tahun munjung” (QS. Al-Baqarah: 233)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat yang mula-mula memberikan penjelasan kepada kita mengenai rentang perian kehamilan setakat menyapih anak dari susuan ibunya selama tiga puluh bulan, menengah ayat kedua menjelaskan kepada kita tentang masa menyusui yaitu sepanjang dua tahun (atau sama dengan dua puluh empat bulan).

Makara jika waktu hamil sampai menyapih dikurangi hari menyusui maka kesannya ialah enam wulan, dan itulah sekurang-kurangnya spirit kehamilan.

Deduksi hukum sebagai halnya ini enggak didapat secara redaksi ayat, namun inferensi ini justru didapat berbunga satu ayat yang digabungkan dengan ayat lainnya sehingga muncullah sebuah kesimpulan hukum.

Akan halnya kaitannya dengan aneksasi hadits bagi seorang mujtahid, maka ada baiknya kita perhatikan dengan seksama pembicaan Abu Ali ad-Dharir berikut dengan Pater Ahmad bin Hanbal:

Abu Ali: “Berapa hadits yang harus dikuasai maka itu seseorang sehingga beliau dapat cak bagi berfatwa, apakah seratus ribu hadits sudah cukup?”

Pendeta Ahmad: “Belum”.

Tepung Ali: “Kalau dua ratus ribu hadits?”

Rohaniwan Ahmad: “Belum”.

Serdak Ali: “Bagaimana jika dia menguasai tiga ratus ribu hadits?”

Pater Ahmad: Belum sekali lagi”

Tepung Ali: “empat dupa?”

Imam Ahmad: “Belum”

Abu Ali: “Jika panca ratus hadits, bagaimana?”

Imam Ahmad: “Kiranya”.[12]

2. Memiliki kenyataan tentang permasalahan ijma’, agar tidak berfatwa bertentangan dengan perkara yang sudah ada ijmanya.

3. Memiliki pengetahuan mendalam tentang bahasa arab

4. Memiliki pengetahuan nan mendalam tentang ushul fiqih

5. Menguasai seputar permasalahan nasikh dan sia-sia

Sejumlah syarat lainnya yang diperselihkan diantara para cerdik pandai demi kelengkapan instrumen bagi seorang mujtahid sehingga dengannya beliau boleh sampi kepada sebuah kesimpulan syariat berasal sumbernya al-Alquran dan as-Sunnah dengan benar. Hanya saja, jelas al-Ghazali ada satu syarat pun yang harus dipenuhi mudahmudahan pendapat seorang mujtahid tersebut sepan dikuti/diterima yaitu kualitas fiil yang terlampau menjaga dirinya dari kemaksiatan baik kerdil ataupun raksasa.[13]

Padahal
muqallid
adalah mereka yang tidak mampu berbuat kejadian-peristiwa di atas, seperti mengkhususkan mana yang kuat mana yang lemah, ia belaka bisa mengikuti pendapat-pendapat ulama yang ada. Dalam bahasa lainya mereka merupakan turunan-orang yang tidak bisa mengerti khitab as-syar’ (al-Quran dan as-Sunnah) secara serentak kecuali melalui perantara pemahaman paraulama (mujtahid) khususnya.

Bermula sinilah muncul konsep dasar bermadzhab [14], bahwa bani adam-individu yang awam dulu dianjurkan untuk mengajuk pendapat para ulama yang telah ada tersusun rapi, bahkan keberadaannya terbentuk setakat sekarang, dan terus dikembangkan oleh para ulama terkini utamanya kerumahtanggaan urat kayu lingkup madzhab, bahkan sebagian jamhur meyakini hukumnya teristiadat [15],  hal ini didasrkan kepada firman Halikuljabbar swt:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai butir-butir jika kamu tidak mengerti” (QS. an-Nahl: 43/ al-Anbiya’: 7)

Pun firman Allah swt:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak moga bikin mukminin itu pergi semuanya (ke arena perang). kok tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang bikin memperdalam embaran mereka tentang agama dan bagi memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

Bahkan, menurut al-Jasshash,  mengomentari QS. an-Nahl: 43 dan al-Anbiya’: 7, bahwa para ulama sudah lalu satu kata bagi mereka yang tidak berharta cak bagi mencerna dalil mudah-mudahan bertanya alias mengikuti mereka yang tahu, sehingga mayoritas ulama ushul menjadikan ayat ini sebagai guri terdepan tentang pikulan orang awam bikin mengikuti para ulama (mujtahid) khususnya. [16]

Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) mengeraskan bahwasanya bertanya kepada tukang dalam masalah syariat ini sudah menjadi pagar adat para sahabat, bahkan para sahabat sudah semupakat bahwa awamnnya sahabat lain diminta cak bagi mencapai derajat mujtahid, karenya kewajiban mereka hanya menanyakan fatwa saja, tidak hanya itu bahkan perkara ini sudah lalu mnjadi konsensus seluruh ulama, tegas al-Ghazali. [17]

Bersumber sisi ilmu mantik afiat lagi mendukung tanggung seorang awam lakukan mengikut (taqlid) kepada pendapat ulama. Untuk seorang awam terhadap syariat syariah mereka punya dua lilihan: (1) Berusaha memahaminya, berpikir dan berijtihad, alias (2) mengikut pendapat ualama yang sudah ada. Jika seleksian pertama yang dilakukan maka maka sudah barang karuan mereka membutuhkan banyak waktu bagi belajar, yang bisa membuat mereka berhenti bekerja; berhenti bertani, tak ada lagi yang berjualan di pasar, sopir angkot semuanya mogok, dst, sehingga pilihan pertama itu dapat membuat dunia ini gugup dan bukan stabil. Jikalau hal purwa ini enggak bisa jadi maka sudah pasti pilihan kedualah nan diambil, yaitu mengajuk ulama.

Demikian isyarat yang disampaikan oleh al-Qadhi Serbuk Ya’la (w. 458 H) [18], Serdak Ishaq as-Syairazi [19], kembali al-Ghazali [20], dan para jamhur lainnya yang tidak boleh kami kutip semua pendapatnya.

[Keempat]

Tentang madzhab apa yang terbaik yang harus diikuti, maka secara mahajana para ulama menilah bahwa bani adam awam berwenang lakukan mengikuti ulama mujtahid kali semata-mata nan dia inginkan [21], akan namun karena perkara bermadzhab ini sudah sangat memencar seantero dunia, maka dalam memintal madzhab yang terbaik cak semau baiknya kita perhatikan kisahan berikut ini, yang dikutip dari kitab al-Muswaddah fi Ushul al-Fiqh: [22]

“Syaikh Muhammad polong Yahya bercerita, kisah ini datang dari al-Qadhi Abu Ya’la, bahwa dahulunya suka-suka seseorang nan datangkepadanya ntuk belajar fiqih Pastor Ahmad (fiqih Hanbali). Lalu al-Qadhi Abu Ya’la bertanya tentang kondsi negri dimana seseorang tadi lalu. Tinggal dia menceritakannya. al-Qadhi kemudian bersabda setelah mendengar ceritanya: “Penduduk negrimu itu semuanya bermadzhab Syafii, cak kenapa sira justru mau mengimbit dan berlatih madzhab Rohaniwan Ahmad?

Ia menjawab: “Karena aku suka dan kagum kepadamu, wahai Syaikh”. Kemudian al-Qadhi Abu Ya’la melanjutkan perkataannya:

ان هذا لا يصلح فانك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا بل كونك لى مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى

“Sungguh yang demikian bukan baik, karena jika kamu sendiri yang bermadzhab Imam Ahmad dan masyarakat lainnya menganut madzhab Syafii maka tidak ada cucu adam yang mau beribadah bersamamu, dan tidak terserah basyar yang mau belajar denganmu, sampai-sampai keberadaan beliau disana bisa meimbulkan permusuhan, karena itu buat saya (al-Qadhi) jika beliau tetap berpegang puas madzhab Syafii itu makin utama”, demikian al-Qadhi menutup pembicaraannya.

Lalu al-Qadhi Abu Ya’la menyarankannya untuk bertemu dengan Tepung Ishaq as-Syairazi, seorang jamhur bermadzhab Syafii.

Wallahu A’lam Bisshawab

——————–

[1] At-Thabari, Jami’ al-Quran…, jilid 17, hlm. 208.

[2] Al-Wahidi, Asbab an-Nuzul, (Dammam: Dar al-ishlah, 1412 H/1992), hlm. 279.

[3] Ibnu Katsir, Kata tambahan Al-Quran al-Azhim, jilid 4, hlm. 574.

[4] Lihat juga QS. al-Isra’: 93,94; al-Furqan: 20; al-Anbiya: 7, 8, 9; al-Ahqaf: 9; al-Kahfi: 11.

[5] Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib…, jilid 20, hlm. 210.

[6] At-Thabari,Jamil al-Bayan…, jilid 17, hlm. 208-209. As-Syaukani, Fath al-Qadir…, jilid 3, hlm. 193.

[7] Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib…, jilid 20, hlm. 211.

[8] Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa, (horizon.ufuk: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1413 H/1993 M), hlm. 342.

[9] Debu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa…, hlm. 342.

[10] az-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Quran, (t.falak: Dar Ihya Tampin al-Arabiyyah, 1376 H/1957 M), jilid 2, hlm. 3

[11] Az-Zarkasyi, al-Burhan…, jilid 2, hlm. 4.

[12] As-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haq min Ilmi al-Ushul, (t.ufuk: Dar al-Kitab al-Arabi, 1419 H/1999 M), jilid 2, hlm. 207.

[13] Serdak Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa, hlm. 342.

[14] Pendeta az-Zarqani (w. 1122) menjlaskan bahwa yang dimaksud dengan madzhab adalah pendapat yang diambil oleh para imam (mujtahid) dalam masalah yang berkaitan dengan hukum ijtihad. (lihat: az-Zarqani, Syarh az-Zarqani, hlm. 133), maka bermadzhab maksdunya yakni mengkuti pendapat pater tanpa harus mengetahui kualitas dalil  nan menjadi landasan mereka privat berijtijad. (as-Sulami, Ushul al-Fiqh alladzi La Yasa’ al-Faqih Jahulah, hlm. 276-278.)

[15] Al-Qarafi, Syarh Tanqih al-Fushul, (t.t: syarikah at-thiba’ah al-fanniyyah al-muttahidah, 1393 H/1973 M), hlm. 431.

[16] Al-Jasshash, al-Fushul fi al-Ushul, (Kuwait: Wizarah al-Auqaf: 1414H/1994 M), hlm. 266.

[17] Al-Ghazali, al-Mustashfa, hlm. 372.

[18] Al-Qadhi Abu Ya’la, al-Udda fi Ushul al-Fiqh, (falak.cakrawala: t.pn, t.th), jilid 4, hlm. 1226.

[19] As-Syairazi, at-Tabshirah fi Ushul al-Fiqh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1403 H), hlm. 414.

[20] Al-Ghazali, al-Mustashfa, hlm. 372,

[21] Al-Qarafi, Syarh Tanqih al-Fushul…, hlm. 432.

[22] Alu Taimiyyah, al-Muswaddah fi Ushul al-Fiqh, (t.t: Dar al-Kutub al-Arabi: t.th), hlm. 541.


Page 2

Fri, 15 July 2022 19:11

Pater Serbuk Al-Qasim As-Syathibi mempunyai doa khusus ketika mengkhatamkan Al-Quran, seperti nan dinukil makanya Ismail Haqqi kerumahtanggaan kitab Tafsir Ruh al-Bayan, jilid 5, hal. 137:





«اللهم انا عبيدك وأبناء عبيدك وأبناء إمائك ماض فينا حكمك عدل فينا قضاؤك نسألك اللهم بكل اسم هو لك سميت به نفسك او علمته أحدا من خلقك او أنزلته فى شىء من كتابك او استأثرت به فى علم الغيب عندك ان تجعل القرآن ربيع قلوبنا وشفاء صدورنا وجلاء احزاننا وهمومنا وسائقنا وقائدنا إليك والى جناتك جنات النعيم ودارك دار السلام مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين برحمتك يا ارحم الراحمين»

Tak lagi dengan ulama besar Abdullah bin Mubarak, sama dengan nan diriwayatkan oleh Al-Penengah Abu Abdillah An-Naisaburi, bahwa Abdullah bin Mubarak lebih banyak menzikirkan ummat Selam secara mahajana ketika selesai mengkhatamkan Al-Quaran, seperti redaksi berikut:





* اللهم أصلح قلوبنا وأزل عيوبنا وتولنا بالحسنى وزينا بالتقوى واجمع لنا خير الآخرة والأولى وارزقنا طاعتك ما أبقيتنا





*







اللهم يسرنا لليسرى وجنبنا العسرى وأعذنا من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا وأعذنا من عذاب النار وعذاب القبر وفتنة المحيا والممات وفتنة المسيح الدجال





*







اللهم إنا نسألك الهدى والتقوى والعفاف والغنى





* اللهم إنا نستودعك أدياننا وأبداننا وخواتيم أعمالنا وأنفسنا وأهلينا وأحبابنا وسائر المسلمين وجميع ما انعمت علينا وعليهم من أمور الآخرة والدنيا





* اللهم إنا نسألك العفو والعافية في الدين والدنيا والآخرة واجمع بيننا وبين احبابنا في دار كرامتك بفضلك ورحمتك





* اللهم أصلح ولاة المسلمين ووفقهم للعدل في رعاياهم والاحسان إليهم والشفقة عليهم والرفق بهم والاعتناء بمصالحهم وحببهم إلى الرعية وحبب الرعية إليهم ووفقهم لصراطك الذي المستقيم والعمل بوظائف دينك القويم





* اللهم الطف بعبدك سلطاننا ووفقه لمصالح الدنيا والآخرة وحببة ألى رعيته وحبب الرعية إليه ويقول باقي الدعوات المذكورة في جملة الولاة ويزيد





* اللهم ارحم نفسه وبلاده وصن أتباعه وأجناده وانصره على أعداء الدين وسائر المخالفين ووفقه لإزالة المنكرات وإظهار المحاسن وأنواع الخيرات وزد الاسلام بسببه ظهورا وأعزه ورعيته إعزازا باهرا





* اللهم أصلح أحوال المسلمين وأرخص أسعارهم وأمنهم في أوطانهم واقض ديونهم وعاف مرضاهم وانصر جيوشهم وسلم غيابهم وفك أسراهم وأشف صدورهم وأذهب غيظ قلوبهم وألف بينهم واجعل في قلوبهم الايمان والحكمة وثبتهم على ملة رسولك صلى الله عليه وسلم: وأوزعهم ن يوفوا بعهدك الذي عاهدتهم عليه وانصرهم على عدوك وعدوهم إله الحق واجعلنا منهم





* اللهم اجعلهم آمرين بالمعروف فاعلين به ناهين عن المنكر مجتنبين له محافظين على حدودك قائمين على طاعتك متناصفين متناصحين *

Didalam kitab I’anah at-Thalibin, jilid 2, peristiwa. 286, kita juga akan menemukan redaksi doa lainnya yang pernah dibaca oleh sebagian cerdik pandai momen khataman Al-Quran:

للهم انفعنا وارفعنا بالقرآن العظيم، وبارك لنا بالآيات والذكر الحكيم، وتقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم، وجد علينا إنك أنت الجواد الكريم، وعافنا من كل بلاء يا عظيم.

اللهم اجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا، وشفاء صدورنا، ونور أبصارنا، وذهاب همومنا وغمومنا وأحزاننا، ومغفرة لذنوبنا، وقضاء لحوائجنا، وسائقنا وقائدنا ودليلنا إليك وإلى جناتك جنات النعيم.

اللهم ارحمنا بالقرآن العظيم، واجعله لنا إماما ونورا وهدى ورحمة.

اللهم ذكرنا منه ما نسينا، وعلمنا منه ما جهلنا، وارزقنا تلاوته على طاعتك آناء الليل وأطراف النهار، واجعله حجة لنا، ولا تجعله حجة علينا، مولانا رب العالمين.

اللهم فكما بلغتنا خاتمته، وعلمتنا تلاوته، وفضلتنا بدينك على جميع الأمم، وخصصتنا بكل فضل، وكرم، وجعلت هدايتنا بالنبي الطاهر النسب، الكريم الحسب، سيد العجم والعرب، سيدنا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب – – صلى الله عليه وسلم – – فنسألك اللهم ببلاغه عنك، وقربه منك، وجاهه المقبول لديك، وحقه الذي لا يخيب من توسل به إليك: أن تجعل القرآن العظيم لنا إلى كل خير قائدا، وعن كل سوء ذائدا وإلى حضرتك وجنة الخلد وافدا.

اللهم أرشدنا بحفظه، وأعذنا من نبذه ورفضه وقلاه وبغضه، ولا تجعلنا ممن يدفع بعضه ببعضه.

اللهم أعذنا به من ذميم الإسراف، ورض به نفوسنا على العدل والإنصاف، وذلل به ألسنتنا على الصدق والاعتراف، واجمعنا به على مسرة الائتلاف، واحشرنا به في زمرة أهل القناعة والعفاف.

اللهم شرف به مقامنا في محل الرحمة، واكنفنا في ظل

النعمة، وبلغنا به نهاية المراد والهمة، وبيض به وجوهنا يوم القتر والظلمة.

اللهم إنا قد دعوناك طالبين، ورجوناك راغبين، واستقلناك معترفين، غير مستنكفين، إقرارا لك بالعبودية، وإذعانا لك بالربوبية، فأنت الله الذي لا إله إلا أنت، لك ما سكن في الليل والنهار، وأنت السميع العليم.

اللهم فجد علينا بجزيل النعماء، وأسعفنا بتتابع الآلاء، وعافنا من نوازل البلاء، وقنا شماتة الأعداء، وأعذنا من درك الشقاء، وحطنا برعايتك في الصباح والمساء.

إلهنا وسيدنا ومولانا: عليك نتوكل في حاجاتنا، وإليك نتوسل في مهماتنا، لا نعرف غيرك فندعوه، ولا نؤمل سواك فنرجوه، اللهم فجد علينا بعصمة مانعة من اقتراف السيئات، ورحمة ماحية لسوالف الخطيئات، ونعمة جامعة لصنوف الخيرات، يا من لا يضل من أصحبه إرشاده، وتوفيقه، ولا يزل من توكل عليه وسلك طريقه، ولا يذل من عبده وأقام حقوقه.

اللهم فكما بلغتنا خاتمته، وعلمتنا تلاوته، فاجعلنا ممن يقف عند أوامره، ويستضئ بأنوار جواهره، ويستبصر بغوامض سرائره، ولا يتعدى نهي زواجره.

اللهم وأورد به ظمأ قلوبنا موارد تقواك، واشرع لنا به سبل مناهل جدواك، حتى نغدو خماصا من حلاوة قصدك، ونروح بطانا من لطائف رفدك.

اللهم نجنا به من موارد الهلكات، وسلمنا به من اقتحام الشبهات، وعمنا به بسحائب البركات، ولا تخلنا به من لطفك في جميع الأوقات.

اللهم جللنا به سرادق النعم، وغشنا به سرابيل العصم، وبلغنا به نهايات الهمم، واقشع به عنا غيابات النقم، ولا تخلنا به من تفضلك يا ذا الجود والكرم.

اللهم أعذنا به من مفارقة الهم ومساورة الحزن، وسلمنا به من غلبة الرجال في صم الفتن، وأعنا به على إدحاض البدع وإظهار السنن، وزينا بالعمل به في كل محل ووطن، وأجرنا به من عاداتك على كل جميل وحسن، إنك أنت العواد بغرائب الفضل وطرائف المنن.

Dan privat kitab Al-Mustadrak ala Majmu al-Fatawa, jilid 3, hal. 109, Syaikh Ibnu Taimiyah mengistilahkan redaksi puji-pujian lainnya :

اللهم لك الحمد على ما أنعمت به علينا من نعمك العظيمة، وآلائك الجسيمة حيث أنزلت علينا خير كتبك، وأرسلت إلينا أفضل رسلك، وشرعت لنا أفضل شرائع دينك، وجعلتنا من خير أمة أخرجت للناس، وهديتنا لمعالم دينك الذي ارتضيته لنفسك، وبنيته على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة وإتياء الزكاة، وصوم رمضان، وحج بيت الله الحرام، ولك الحمد على ما يسرته من صيام رمضان وقيامه، وتلاوة كتابك العزيز الذي لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم إنا عبيدك بنو عبيدك، بنو إمائك نواصينا بيدك ماض فينا حكمك، عدل فينا قضاؤك، نسألك اللهم بكل اسم هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحدا من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا ونور صدورنا، وجلاء أحزاننا وذهاب همومنا وغمومنا، اللهم ذكرنا منه ما نسينا، وعلمنا منه ما جهلنا، وارزقنا تلاوته آناء الليل وأطراف النهار على الوجه الذي يرضيك عنا، اللهم اجعلنا ممن يحل حلاله، ويحرم حرامه، ويعلم بمحكمه ويؤمن بمتشابهه، ويتلوه حق تلاوته، اللهم اجعلنا ممن يقيم حدوده، ولا تجعلنا ممن يقيم حروفه ويضيع حدوده، اللهم اجعلنا ممن اتبع القرآن فقاده إلى رضوانك الجنة، ولا تجعلنا ممن اتبعه القرآن فزج في قفاه إلى النار، واجعلنا من أهل القرآن الذين هم أهلك وخاصتك يا أرحم

الراحمين، اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، وألف بين قلوبهم، وأصلح ذات بينهم، وانصرهم على عدوك وعدوهم، واهدهم سبل السلام، وأخرجهم من الظلمات إلى النور، وبارك لهم ف


Doa Berusul Utusan tuhan?

Demikian beberapa redaksi doa khataman Al-Quran yang kami dapatkan dari sejumlah refrensi nan ada, ada sebagian sidang pengarang diatas yang sudah makruf ditelinga kita, yang biasa kita pakai sehari-hari walaupun tidak dalam momen khataman Al-Quran, distingtif untuk doa khataman Al-Quran yang memang mutakadim habis dempang ditelinga kita, dan terlebih sedikit lagi seluruh masyarakat Indonesia yang pernah ngaji di TPA sudah hafal wirid ini:

وَهُوَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نُسِّيت وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْت وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Apakah doa ini benar tanzil Rasulullah saw? atau sekadar “tiruan” para ulama belaka? yang jelas sidang pengarang tahmid ini sedikitnya penulis temukan dalam banyak kitab, diantaranya; kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, kitab Kassyaf Al-Qina, kitab Mathalib Uli An-Nuha, kitab Ihya’ Ulum Ad-Din, kitab Ruh Al-Bayan. Sebagian kitab menjelaskan status riwayat tersebut namun sebagian lainnya bukan menyebutkannya.

Misalnya Imam Al-Buhuti, selaku pengarang kitab Kassyaf Al-Qina, lega jilid 1, hal. 428 menjelaskan bahwa redaksi tahlil tersebut diriwayatkan maka itu Abu Manshur Al-Muzhaffar bin Al-Husain dalam Fadhail Al-Quran, juga diriwayatkan oleh Serbuk Bakr Ad-Dhohhak dalam As-Syama’il, namun Ibni Al-Jauzi menilai bahwa riwayat itu timbrung privat katagori hadits Mu’dhal, merupakan spesies hadits dhaif yang didalam sanadnya ada dua perawi yang terpotong, diyakini oleh para cerdik pandai hadits Mu’dhal ini lebih buruk tinimbang hadits Mursal atau Munqathi’.

Jadi kemungkinan bahwa redaksi ini etis-benar pecah Rasulullah saw suka-suka kewaswasan didalamnya, bakal itu sumber sidang pengarang tahmid ini lega akhirnya agak tekor simpang siur, belakangan ada yang mengatakan bahwa redaksi doa tersebut bersumber dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, namun Syaikh Al-Albani kerumahtanggaan kitab Alur-nya, jilid 13, peristiwa. 315 menuliskan:

إن الدعاء المطبوع في آخر بعض المصاحف المطبوعة في تركيا وغيرها






تحت






عنوان: “دعاء ختم القرآن ” والذي ينسب لشيخ الإسلام ابن تيمية رحمه






الله تعالى؛ فهو مما لا نعلم له أصلاً عن ابن تيمية أو غيره أن علماء الإسلام

“Bahwa redaksi takbir nan banyak tertulis pada mushaf-mushaf yang ada utamanya di Turki dan negara lainnya dengan judul “Doa Khatam Al-Quran” yang dinasabkan redaksi tersebut dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah maka sungguh perkara itu kami tidak mengetahui secara pasti bahwa itu pecah Ibnu Taimiyah atau berpangkal selainnya dari ulama Islam”

Saja pada akhirnya bukan berarti bahwa redaksi wirid dari hadits dhoif bahkan yang dhoifnya masuk n domestik katagori hadits Mu’dhal-pun tidak dapat dipakai internal sembahyang, semua konstan bisa digunakan dalam rang berdoa kepada Allah swt, malah takdirnya secara isi mengandung makna dan tujuan intensi yang baik, hanya doang keyakinan bahwa ratib tersebut 100% datangnya utusan tuhan lain boleh kita pastikan seperti itu.

Jangankan hadits dhoif yang masih cak semau kemungkinan kerdil bahwa itu benar redaksi berasal nabi, redaksi doa yang kita untuk sendiri pun boleh dipakai untuk berdoa, baik dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maupun dengan bahasa daerah per yang sekali-kali malah “lucu” didengar.

Sehingga sembahyang setelah khataman Al-Alquran tidak terlewatkan, berdoalah sesuai dengan hajat nan ada, ajak istri gelap dan keluarga kapan berdoa, jangan lalai bikin mendoakan sesama mukminat lainnya, kembali beribadat bikin para pemimpin dan pejuang Islam, hendaknya kelak dunia ini aman dan sejahtera dibawah naungan pemimpin-kepala Islam yang kuat dan profesional. Aamiin.


Wallahu A’lam Bisshawab

Source: https://memperoleh.com/yang-mengikuti-pendapat-mujtahid-disebut